Daily Life

Resign, Alasan, dan Rencana Masa Depan

Honestly, it’s sad to leave but I’m also excited to see what’s ahead!

27 Agustus lalu jadi hari terakhir saya kerja di Perusahaan yang bikin saya pertama kali merantau. Yes, dari orok sampe 22 tahun, saya hidup dikekepin di bawah ketek orang tua! Hahaha. Bukan perusahaan tempat kerja pertama kali, tapi yang ‘masa bakti’nya paling lama (saat ini, lho, ya).

I know this day would come, tapi ga nyangka secepet ini. Setelah 6 tahun 2 bulan, part pekerjaan yang paling banyak mendapat perhatian, dengan segala keluhan, namun juga kebahagiaan. Yaiyalah, bisa dapet banyak pengalaman, ketemu banyak orang, ke tempat yang ga pernah terpikirkan. Kalau dilihat, diraba, ditrawang *you sing, you lose* I can say that my JS journey has changed me for the better and help me grow personally and professionally. That’s why banyak yang menyayangkan (ya, walaupun gatau itu bentuk perhatian atau cuma basa-basi belaka, I appreciate it, tbh) tapi hidup adalah rangkaian dari beragam keputusan, kan?

Baca: Bekerja di Perusahaan Asuransi

Kenapa ‘mendadak’ resign?

Sebetulnya bukan keputusan impulsif yang diambil tiba-tiba. Berbulan-bulan waktu saya lempar obrolan mau cabut, ditolak mentah-mentah sama Husbae! HAHAHA. Dia tau banget saya bosenan, ga bisa diem, ga pernah di rumah aja, dari lulus kuliah langsung bikin usaha trus kerja, jadi dia khawatir saya ga bakal betah. Akhirnya saya ditugasin buat bikin pro-con kalau resign, banyak banget pemikiran yang saya lalui sampai akhirnya memutuskan seperti ini. Memang, saya ga woro-woro ke mana-mana karena buat apa?

Alasan utama resign, karena saya ngerasa lumayan stuck di beberapa sisi. Saya ngerasa ini ga baik buat perkembangan diri saya sendiri (ya, egois perlu lho demi kemaslahatan pikiran dan hati). Saya juga merasa ini saatnya ‘merampingkan pikiran’, karena jujur cukup emotionally challenging dan tentu bikin physically draining. Sayang kan energinya? Padahal bisa diberikan untuk hal-hal yang bikin saya lebih merasa happy. Selain itu juga ada beberapa hal yang ga sesuai dengan panggilan hati saya sebagai manusia (ceilah sok iya), value yang diusung ga lagi sama tapi beneran suwer sungguh! Juga saya merasa bisa mengembangkan diri di area-area lain, yang selama ini baru jadi mimpi (doakan ya!). Sangat amat wajar kan kalau setelah beberapa tahun, ada yang berubah, keadaan berbeda, visi yang (mungkin) tidak sejalan? Karena ini sebuah dinamika; perusahaan bertumbuh, orang-orangnya pun sama, begitu juga dengan saya. Ga ada yang benar atau salah, hanya berpisah karena we’re not cruising at the same altitude anymore and that’s okay.

“It’s okay to live a life that others don’t understand.”

Alasan lain adalah 12 tahun pacaran (dengan 11 tahun LDR) ternyata ga bikin saya lempeng waktu meningkatkan status jadi Long Distance Marriage (LDM). Hehe.
“Ih itu mah lo aja yang kegenitan, Ta!”
No. Ada hal-hal prinsip yang bagi saya sulit banget buat menjalani LDM, entah karena saya merasa lebih bertanggungjawab untuk menunaikan tugas suami/istri, atau memang saya ga betah jauh-jauhan wkwk! (Padahal biasanya woles aja ga ketemu berbulan-bulan), ditambah pandemi! Ruang gerak pasangan LDM makin sempit, dengan segala tetek bengek PSBB, PPKM berjilid-jilid. Ck. Gileeee cost-nya lumayan lho kalo dihitung-hitung. Sabodo teuing yang mau julid, emang mau bayarin saya bolak balik? Wleeee.

Baca: Dari Pensi Jadi Suami Istri

What will you miss most about the office or city life?

Temen-temen, jajan sesuka hati, beli ina itu pake duit sendiri ga perlu ngomong ke suami (ngomong doang lho ya, bukan izin) hahahaha *duniawi sekali* Jujur seneng bangetttt kerja, belajar banyak sekali, dimentorin orang-orang hebat, bisa main atau liburan ke mana-mana, banyak temen ngobrol dan diskusi (termasuk ghibah, ih astaghfirullah Ata. *benerin kerudung*), dan tinggal di ibu kota dengan segala kemudahannya menambah kesenangan duniawi hahaha. Gimana ngga, literally semua tuh dalam genggaman, sagala aya! Tapi saya ga memungkiri, it was so exhausting. Capek banget segala dipikirin, hehe.

Sesuka dan secintanya saya sama the city life, it’s fast paced, hustle and bustle dengan segala kemudahan mencapai apapun, tetep aja deep down in my heart pengin deket sama keluarga. Karena buat saya prioritas saat ini ya keluarga kecil ini.

Kalau dulu ngegas polllll banget liat quote motivasi, penuh ambisi, liat temen udah jadi ina itu, yang somehow it seemed like I needed to reach so many things in life, sekarang saya ngerasa udah mencapai titik untuk ga perlu validasi si A, si B, si C, ga musingin diri untuk keep up sama pencapaian dan kehidupan orang lain karena kesuksesan tiap orang definisinya tentu berbeda. Buat si A, promosi jadi manaher itu suksesnya, atau bagi si B, making her first 5bio is success, untuk si C, living under one roof with his spouse adalah sukacita; berbeda dan gapapa.

Saat berdamai sama diri sendiri dan menerima diri sepenuhnya, saya menyadari bahwa orang punya timeline masing-masing dengan masalah, bahagia dan tujuan hidup yang ga sama, jadi ga perlu merasa insecure berlebihan (ya bolehlah tipis-tipis untuk memelihara humility sekaligus bisa memacu diri juga, jangan bablas lalu glorifying being a mediocre dan jadi pemalas!), now I prefer living slowly and I’m fine with it. Rilek.

Kembali menjadi anak pesisir pantai setelah 2 tahun menikmati city life.

Saya ga munafik, masih dan harus banget punya aktivitas biar terus belajar dan mengembangkan diri plus bonus kalo bisa kerja remotely (mari dilempar sini kalo ada kerjaan nulis tipis-tipis lhooo hahaha tetep jualan), bikin usaha, atau ga menutup kemungkinan juga untuk cari kerja lagi di sini sih. Untuk sekarang saatnya saya menikmati slow living, simple life kaya gini, di suburban area (lagi) hihi. Doakan ya! *dalem hati berdoa biar mood nge-blog stabil* *dijejelin invoice domain* 😛

Previous Post

You may also like

11 Comments

  • Reply Nita

    Semangat post resign-nya. Aku jg abis resign.. kekeke.. tp emang deh paska nikah itu ada beberapa worldview jadi beda, mau kembali ke cara pandang pas sebelum nikah ya gak bisa.. everybody’s changing..

    October 1, 2021 at 12:32 pm
    • Reply ata

      Terima kasih, Mba. Sepakat, mau ngga mau, disadari atau ngga, menikah memang mengubah pandangan hidup. In shaa Allah ke jalan yang lebih baik tentunya. Aamiin yra.

      Btw, aku abis berkunjung ke blog-mu. Semangat juga ya dengan status barunya. Semoga bahagia dan sehat selalu bersama keluarga, Mba Nita. 🙂

      October 1, 2021 at 12:55 pm
      • Reply Sandra

        All de best ta! Rencana ktmuan di Jakarta ga pernah kelaksana sampe akhirnya Ata resign… hiks… Salut sama keputusannya yg pasti udah dipikirkan matang2. Jadi kapan atuh kita ktmuan 😄

        October 1, 2021 at 5:46 pm
        • Reply ata

          Mamiiiiiih! Hihi iya nih, keburu pandemi trus pindahan (lagi) ya. Hahaha kalo aku ke Jakarta atau Mamih yang liburan ke Bangka dooong. Wajib kabariiin ya 😊

          October 5, 2021 at 2:36 pm
  • Reply Fasya

    Taaa, sudah kembali ke sebrang sana yahhhh. Semoga tetap bahagia dengan apapun yang dijalani ya. Aku ikut senang karena tidak perlu jauh2 dengan suami. Soalnya aku juga team yang sama. Kalau nikah gak mau ldm hahaha si harus deketan ><

    October 1, 2021 at 12:32 pm
    • Reply ata

      Haiiiiii, bumil ketje! Iya, nih. Mengikuti jejak suwamik, Sya. Tosssss dulu dong, doakan lebih barokah dengan jalan baru ini ya. 😀

      Anw, semoga kamu dan calon dedeknya sehat selalu dan dilancarkan sampe lahiran ya, Syaaaaa. Aamiin yang banyak. <3

      October 1, 2021 at 12:58 pm
  • Reply Faridilla Ainun

    Semangat menjalani hari hari baru yaaa…dengan pertimbangan yang matang, pasti siap dan senang menjalaninya

    October 1, 2021 at 1:24 pm
    • Reply ata

      In shaa Allah dengan ridho partner, keluarga, dan kemauan diri sendiri, semoga ini yang terrrbaik ya. Aamiin *Lha, kok macem jawaban mau diajak kaweeeen :))))

      Doakan aku, Mba Ainun. Semangatsssss.

      October 1, 2021 at 1:30 pm
  • Reply Temen SMA dulu

    Dari dulu, suka sekali sama gaya ata menuliskan sesuatu. Ringan dan mudah dimengerti.
    Eaaaa.
    Sabodo teuing mau ceritain ttg apa, pokoknya seneng bacanya.

    Sehidup sesurga sama suami, dimudahkan segala urusan, aamiin.

    October 2, 2021 at 12:34 pm
    • Reply ata

      Aaah terima kasih! So kind of you.

      Aamiinallahumma aamiin untuk doanya. Doa yang sama buatmu ya, sehat selalu. 😊💫

      October 5, 2021 at 2:35 pm
  • Reply Avant Garde

    Semoga sukses dengan kehidupan yang baru ya Ata 🙂

    December 20, 2021 at 8:58 am
  • Leave a Reply to Fasya Cancel Reply

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

    %d bloggers like this: