Housewaifu's Journey

Hadirnya dia si Anak Pertama

Hello everybody! Ga ada angin, apalagi hujan; belom cerita hamil tau-tau udah lahiran. Pantun banget ga tuh? ? IYAAAA, saya sudah resmi jadi mama, di bulan Juni tahun lalu tepatnya. Alhamdulillah.. mau cerita dikit ya, mungkin juga agak panjang, please bare with me ?

Setelah 38w mengandung, dari yang santai banget di minggu pertama hamil, lalu mual parah di tengah trimester pertama, kemudian ga bisa berhenti mengunyah di trimester tiga; akhirnya anak pertama kami lahir ke dunia. (Cerita kehamilan mungkin akan jadi post terpisah nantinya, insyaa Allah tapi ya! *kaya ada yang nungguin aja ?).

Flashback ke H-1 lahiran.

Saya masuk IGD karena satu dan lain hal (alasan medis tentunya yang ga akan saya ceritain di sini ya, pemirsa), lalu langsung antigen dan cek darah, kemudian masuk ke kamar rawat inap untuk puasa sebelum tindakan operasi. Kebetulan di RSIA tempat saya lahiran sudah menggunakan metode ERACS, karena itu juga saya harus puasa 6 jam sebelum masuk ke ruang operasi dan minum teh manis 2 jam sebelumnya.

Perasaan saya waktu mau lahiran tentu DEGDEGANNNNN! Ditambah lagi harus operasi besar yang belum pernah saya jalani sebelumnya. Biasanya cuma operasi semut kita (wow, so crunchy!) Di trimester akhir, saya sering liat video orang lahiran, baik yang pervaginam maupun SC dengan niat “punya gambaran proses lahiran” (emang suka nyari gara-gara anaknya–yang tentu ngga saya rekomendasikan. Hai para bumil, udah jangan liat video lahiran ya, nambah pinter ngga, keblinger sih iya ?), begitu diharuskan operasi, tentu degdegannya makin bertambah!!! Bolak balik nanya pengalaman saudara dan temen yang SC, pasti komennya “Waktu suntik anastesi yang paling sakit!”, “Ruang operasi dingin bikin menggigil.”, “SC bikin ASI seret (MITOS AH, ga gue dengerin wleeee).”, dan testimoni lainnya.

Beberapa jam sebelum operasi, saya disarankan untuk istirahat biar fit, karena WAW JADI MAMA (SUDAH TIDAK) MUDA, NIKMATNYA LUAR BIASA #IYKWIM haha. Tapi namanya juga kaum OVT, tentu saja saya ga bisa tidur nyenyak. Menuju h-6 jam, saya disuruh makan sama suami, biar kuat menghadapi kenyataan besok pagi hehe. Besoknya, saya disuguhi teh manis hangat oleh suster, lalu mandi dan ganti daster, dicek ‘bawah’ oleh bidan sebelum pasang kateter (Yok yang mau lahiran, gih Brazilian Wax dulu ya! Walaupun kalau belum bersih akan dipangkas habis sama bidannya, tapi kan malu ygy ?), tes alergi antibiotik, dan pasang infus. Jujur kita kira ribet ya pipis pake kateter, tapi ternyata ga berasa tuh hihi (TMI, woy, Ta).

Long story short, jam 7 pagi saya masuk ruang operasi. Ganti baju (lagi) lalu pamit sama suami di depan ruangannya. Karena dokternya telat, cukup mati gaya deh, akhirnya saya *nguping* dengerin para perawat yang cerita-cerita (DZIKIR KALI, TA!). Btw, nunggu di ruang operasi bikin lelah ya, karena kasur operasi sungguh cimit, sedangkan perut bawa gembolan, ditambah udah ga bisa posisi menyamping, hampir sejam telentang cukup bikin punggung rada encok. Sejam kemudian, dokter berdatangan, mulai dari dokter spesialis anak, dokter anastesi (yang ternyata temennya sepupu) dan dokter obgyn (all hail dokter kesayanganku yang baiknya tiada dua). Yay! Kita akan segera bertemu, Nak!

Sebelum operasi, seluruh tim berdoa dengan harapan operasi dilancarkan. Dokter anastesi yang pertama bertindak, ini part paling degdegan mengingat berbagai testimoni orang-orang sebelumnya. Waktu anastesi, tulang belakang disuntik. Hacks-nya: tarik napas dan relax. Alhamdulillah ga berasa ? atau saya yang pain tolerance-nya lumayan tinggi ya? Tapiiiii, menunggu bius bekerja ternyata cukup memakan waktu di badan saya, sampai akhirnya saya disuruh batuk, baru deh kaki baal dan ga bisa diangkat. It works! Let’s start.

Dokter obgyn dan para tim perawat mengambil alih, perut diubek-ubek, ditekan-tekan dan beberapa menit kemudian terdengarlah tangisan bayi. ALHAMDULILLAH, selamat datang, Cintaku, N. ? “Wah dedeknya gendut.” Kata-kata pertama dari salah satu tim yang bertugas pagi itu. Alhamdulillah lagi, padahal taksiran berat badan janin cukup seret naiknya di beberapa minggu terakhir sampe saya disuruh makan protein dan es krim.

N langsung ditimbang, diukur, dan dibersihkan. Saya dijahit sambil tak hentinya bersyukur atas nikmat-Nya dan diiringi tangisan N, hihi so blessed. N, diperlihatkan ke saya sambil perawatnya menginformasikan PB, TB, LK, Jenis Kelamin. Pertama kali ketemu sungguh haru ? walaupun saya ga bisa melihat jelas karena tanpa kacamata. Btw di RS ini tanpa IMD (yang bikin menyesalllllll, tapi mungkin ada pertimbangan medis), lalu N dibawa ke Papanya untuk diazankan.

Selesai dijahit, saya pindah ke ruang observasi sebelum kembali lagi ke kamar rawat inap. Akhirnya ketemu suami dengan status sebagai orang tua newbie hihi. Karena ERACS, saya langsung boleh makan. Alhamdulillah lahap hahaha ? Nah, di ruang observasi saya kepanasan (semenjak hamil memang saya gampang gerah karena gend0000t-yaiyalah naiknya aja 17kg!!!, di ruang operasi yang katanya dingin-banget-bikin-menggigil pun saya biasa aja), tapi karena bareng beberapa orang lainnya, jadi ga bisa complained hehe.

Setelah ga ada keluhan, saya belajar duduk. (YES, sejam pasca operasi langsung banget disuruh gerak ?), alhamdulillah bisa walaupun masih ngeri-ngeri sedap ya. Karena udah bisa duduk, jadi balik ke kamar rawat inap pun pake kursi roda. Sampe kamar, lepas kateter biar bisa belajar jalan dan ke kamar mandi sendiri. HAHAHA ya Allah kalo flashback ngebayanginnya, ngilu deh. Tapi alhamdulillah bisa. Selain banyak bergerak, selagi N belum dianterin ke kamar untuk rawat gabung, saya pun istirahat. Sorenya N baru dianter ke kamar dan ya ampun rasanya hati berbunga-bunga. ❤️❤️❤️❤️❤️ di momen itu saya belajar menyusui (diajarin bidan-dipencet.red), alhamdulillah colostrum keluar walaupun belum banyak. Ternyata menyusui ga semudah itu, posisi dan pelekatan sulit sekali, saya belajar, N pun begitu. Stressful, anak nangis, ibunya belum jago mengarahkan…. wah masa-masa itu. Little did I know, beberapa hari kemudian N kuning (jaundice) dan ternyata punya Tongue Tie. Cerita lengkapnya bakal saya jelaskan di post setelah ini ya, Pemirsa.

Selama dirawat gabung, baru kerasa jadi mama. HAHAHA. Semua diajarin suami, mulai dari ganti pospak sampe gendong, saya se-clueless itu. Ga pernah urus bayi sama sekali, apalagi newborn begini. Untung suami jago karena sering urus sepupu dan keponakannya ? dan selama dirawat, kami cuma bertiga (yes, peraturan pandemi, penjaga hanya boleh 1 orang dan ga boleh dijenguk). WAH GINI RASANYA BEGADANG URUS ANAK YHA ☺️ Setelah 4 hari dirawat, kami pun boleh pulang. Alhamdulillah..

___________________

Hallo, N!

Cerita ini sudah mama tulis beberapa hari setelah kamu lahir, waktu kita (mostly) cuma berdua karena Papa pergi ibadah haji, lalu LDM beberapa bulan. Hampir setahun, jadi draft aja karena ngga punya waktu untuk diri sendiri publish. Iya, ternyata mengurus bayi sendiri, beneran menguras energi. No, mama ngga mengeluh, kok, (ya walaupun kadang ada senewennya se-ring-sekali) tapi hari-hari kita tetap dan selalu mama nikmati. Beneran, serius, sungguh, wouldn’t trade it for the world! ✌?

Selamat satu tahun menjalani hari, ya, Sayang.
Mama dan papa selalu mendoakan yang terbaik buat N setiap hari. Terima kasih sudah hadir di hidup kami, transfer super banyak energi, buat kami terpacu untuk banyak belajar hal-hal baru dan (insyaAllah, maunya) jadi orang tua yang lebih baik lagi. Maaf belum bisa jadi orang tua yang sempurna (kadang masih suka overwhelmed, loss control), tapi mama dan papa berusaha biar N selalu dicukupkan dari semua sisi.

Doa kami, semoga N tumbuh jadi orang yang bahagia, berani, baik hati, berkah hidupnya, dilimpahi cinta kasih, dan selalu bangga sama diri sendiri. ♡

Love you, our lil gemini!

Previous Post Next Post

You may also like

Leave a comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: