Daily Life

Accept what you can’t change

Jumat lalu, di morning briefing, temenku kebagian sharing. Beliau bahas keluarga, yang jauh dan sulit bertemu karena pandemi yang tak berkesudahan ini. Dia di Jakarta, keluarga intinya di Medan to be exact. Anaknya yang masih bayi, belum pernah bertemu langsung dengan Papanya sampai sekarang. Mendadak orang-orang satu divisi menitikan air mata, tumpah ruah. :_)

Aku, dengan hati jelly, tentu sudah langsung ambyar di tempat. Kangen yang membuncah sama Papa dan semua orang di rumah Palembang sungguh ga terbendung. Memang, beberapa kali aku sempet ke Bandung, yes, I take the risk, karena ga tau gimana jadinya aku sekarang kalo harus melewatkan hari-hari di kos aja tanpa ketemu keluarga. Ketemu Ayuk, Kakak, dan jalan cari ijo royo-royo (even cuma ke sawah belakang rumah) bisa nge-charge sanity levelku. Cuma memang belum boleh (dan aku pun mikir seribu kali) kalo harus maksa balik ke Palembang. Ke Bandung pun ga pake kendaraan umum.

Semakin ke sini, meski angka penyebaran terus naik dan tak kunjung ada tanda-tanda menurun, I won’t judge anyone. Aku sudah di level ga akan ngomel-ngomel kalo ada yang keluar ga pake masker, nongkrong di coffee shop, sharing makanan sama temen-temennya, dan lain-lain. We’re living in this new normal phase (yang katanya malah ga ada new-newnya hehe) in a very different level of concern and consideration. Terserah. Ga mau ngabisin energi dan akan ngikutin akal sehatku aja. Ada yang ga pake masker? Aku ga bakal mendekat. Bioskop dibuka? Aku ga akan nonton. You do you, I’ll do me. Demi kewarasanku. Hehehe.

Cuma sanggup bantu doa, semoga sing punya kuasa bisa lebih aware, sehat, mikir dengan bener, dan bikin keputusan yang ajeg terkait penanganan pandemi ini. Can I get an amen?

Previous Post

You may also like

1 Comment

  • Reply praditalia

    Aameen

    September 4, 2020 at 9:07 pm
  • Leave a Reply

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

    %d bloggers like this: